Ilustras vaksin Covid-19. (Foto: Istimewa)

MEDAN TOP – LPPOM MUI membuktikan bahwa vaksin Covid-19 produksi
AstraZeneca dalam proses produksinya menggunakan tripsin. Kajian ilmiah itulah
yang akhirnya membuat sidang Komisi Fatwa menentukan bahwa vaksin tersebut
haram, namun tetap boleh digunakan karena keadaannya darurat.

“Pihak Astra Zeneca sempat mengatakan bahwa proses tersebut
tidak ada kandungan babi. LPPOM MUI melalui kajian ilmiah menemukan bahwa itu
ada,” kata Direktur LPPOM MUI Muti Arintawari, Selasa (23/3/2021).

Titik pijak MUI menghukum haram vaksin Covid-19 produksi
AstraZeneca memang terletak pada tripsin yang berasal dari pankreas babi. Pada
penyiapan bibit Rekombinan (Research Virus Seed) sampai vaksin siap digunakan
untuk produksi (tahap master seed dan working seed).

“Terdapat penggunaan tripsin dari Babi sebagai salah satu
komponen pada media yang digunakan untuk menumbuhkan E-coli dengan tujuan
meregenerasi transfeksi plasmid p5713 p-DEST ChAdOc1 nCov-19,” terangnya.

Untuk diketahui, tripsin adalah suatu enzim atau protein
yang mempercepat reaksi biokimia tertentu. Berdasarkan scientific-guideline
dari ema.europa.eu; porcine tripsine atau trispin babi adalah reagen yang
banyak digunakan selama pembuatan produk obat biologis.

Tripsin babi menjadi aplikasi utama sebagai pelepasan sel
dari proses pembuluh kultur. Tripsin babi memang merupakan bahan yang
berasal dari hewan yang diekstrak yaitu dari bagian pankreas babi.

Tripsin babi berfungsi sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi
peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Lalu, kuman akan
dibiakkan dan difermentasi, kemudian diambil polisakarida kuman sebagai antigen
bahan pembentuk vaksin.

Kemudian dilakukan proses
purifikasi dan ultrafiltrasi yang mencapai pengenceran 1/67,5 miliar kali
sampai akhirnya terbentuk produk vaksin. Hal ini juga dijelaskan oleh Ahli
Biomolekuler Indonesia, Ahmad Utomo, bahwa tripsin dari ekstrak babi ini diperlukan
hanya untuk memecah sel-sel agar tidak bertumpuk dan mati, dan supaya mudah
dipisahkan di wadah-wadah lain yang telah disiapkan.

Sehingga, setelah selesai proses purifikasi dan ultrafiltrasi dalam proses
pembuatan vaksin tersebut, enzim tripsin babi yang dipergunakan tidak akan
bercampur dengan bagian virus yang ditargetkan untuk vaksinasi. “Nanti
hasil jadinya (produk vaksin), tidak ada lagi enzim tripsin,” papar Ahmad.
(RED03)



Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here